Tak terasa 4 tahun sudah saya mengajar di SMK Negeri Campalagian. Sekolah tersebut terletak di desa Baru' kecamatan Luyo kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Beberapa postingan saya sebelumnya terkait dengan keseharian saya di sekolah tersebut.
Kali ini, masih menyangkut kegiatan mengajar saya itu, saya akan menceritakan sebuah kisah nyata. Tidak sampai angker, tapi jatuhnya malah menyedihkan. Kisah ini berawal di permulaan semester ini. Semester ganjil tahun ajaran 2014/2015. Hari itu saya akan mengajar di kelas XII TKJ 1. Seperti biasa, saya menyapa siswa dan bercakap-cakap sedikit sebelum masuk kelas dan memulai pelajaran. Hari itu saya bersama Rahmat. Dia menceritakan pengalamannya waktu prakerin.
"Pak," katanya memulai percakapan. "Temanku, Pak. Si Erwin. Katanya 'Coba lihat saya. Saya tidak kumpul tugas, masih bisa ikut prakerin. Bisa naik kelas pula.' Gitu katanya, Pak. Apa benar begitu, Pak?" Saya diam sebentar. Lalu saya iyakan. Memang benar bahwa ada siswa yang belum konfirmasi menyelesaikan tugas dari saya. Parahnya lagi, dengan bangganya dia umumkan ke teman-temannya. Sakit hati saya. Saya tidak habis pikir, bagaimana ada teman guru yang berpikir primitif seperti itu. Bagaimana bisa dia bisa melangkahi saya untuk memutuskan nilai untuk siswa. Tanpa konfirmasi. Bagaimana bisa ada orang seegois itu. Kalau saya tidak pernah menyetor nilai ke panitia semester, saya pikir memang itu salah saya. Tapi saya menyetorkan nilai pada waktu yang telah ditetapkan. Dan saya diperlakukan seperti ini. Sejak itu, saya tidak pernah enak mengajar. Selama saya di sekolah ini, saya sudah melihat ketimpangan sistem dalam pelaksanaan pendidikan. Ada yang seenaknya mengganti nilai untuk dikirim ke dinas pendidikan nasional. Jadi semua penilaian yang dilakukan oleh guru tidak ada artinya sama sekali. Karena mereka akan merombak nilai yang akan dilaporkan. Saya tidak meng-komplain itu selama tidak ada unsur menjatuhkan guru lain. Mereka selalu ingin siswa kami dapat nilai tinggi. Tapi tidak menanamkan disiplin dengan baik. Bagaimana siswa mau belajar kalau mereka yakin bahwa tanpa belajar pun mereka bisa lulus. Saya ingat waktu rapat beberapa waktu lalu ada ide untuk meningkatkan disiplin siswa. Mulai dari mengaktifkan guru piket, menaikkan gaji satpam, memasang kawat duri, dan seribu satu ide konyol lainnya. B*llsh*t semuanya. Sangat jelas bahwa kedisiplinan itu dimulai dari diri pribadi. Tidak ada cerita guru bisa mendisiplinkan siswa kalau gurunya sendiri b*br*ok.
Contohnya tahun ini, ada statemen dari siswa tentang temannya yang tidak menyelesaikan tugas tapi bisa naik kelas. Padahal pada rapat di awal tahun ajaran dulu, kami para pengajar telah bersepakat untuk memperbaiki sistem. Tapi mana? Tahun sebelumnya saya pernah kena tegur karena datang terlambat 30 menit. Tapi siswi yang telat haid 9 bulan, masih ikut ujian akhir. Tahun sebelumnya lagi, siswa yang telah ketahuan menikah masih bisa ikut prakerin. Dan setiap awal tahun ajaran selalu ada pernyataan akan melakukan perbaikan. Mana? Tidak ada bukti.
Belum lagi masalah prakerin. Tahun ini saya ditugasi untuk menjajaki lokasi prakerin di daerah Majene. Beberapa stakeholder kami menolak untuk menerima siswa kami untuk praktek kerja di instansinya. Karena tahun lalu ada masalah yang dibiarkan berlarut tanpa penyelesaian. Siswa yang selalu terlambat datang ke lokasi, ada juga siswa yang merokok. Dan tidak ada tindak lanjut yang berarti dari sekolah, dalam hal ini panitia prakerin tahun lalu.
Ini adalah pengalaman buruk bagi saya. Hingga saat ini saya mempertanyakan makna mendidik bagi para teman-teman pengajar. Meskipun tidak semuanya seb*br*ok itu. Masih ada kawan-kawan yang menunjukkan pengabdian sepenuh hati untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Tapi jujur saja, semua itu membuat saya gerah. Mengajar, masihkah itu sebuah pengabdian?
No comments:
Post a Comment